Makassar, Experience – Tidak banyak yang tahu, Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2009 tentang Kepariwisataan secara tegas mengamanatkan setiap daerah untuk memiliki Badan Promosi Pariwisata Daerah (BPPD).
Lembaga ini yang dikenal dengan Badan Promosi Pariwisata Kota Makassar (BP2M) akan berfungsi sebagai motor kolaborasi lintas sektor demi memasarkan potensi wisata dan menggerakkan ekonomi kreatif.
Ketua DPD Asosiasi Muslim Penyelenggara Haji dan Umrah Tepublik Indonesia (Amphuri) Sulampua, Azhar Gazali, menilai keberadaan BP2M di Makassar harus menjadi ruang terbuka bagi para profesional di sektor pariwisata, termasuk media, komunitas, akademisi, dan pelaku industri.
“Kalangan media dan komunitas punya peran strategis. Partisipasi mereka sangat bisa menggerakkan ekonomi daerah, bukan hanya dari promosi, tetapi juga membangun citra positif yang mendorong kunjungan wisatawan,” kata Azhar, Kamis (14/8).
Ia menegaskan, pelaku industri pariwisata sangat terbantu dengan aktivitas media, komunitas influencer, dan konten kreator dalam menarik pasar dari dalam maupun luar negeri. “Selama perwakilan mereka dilibatkan dalam program daerah, dampak promosinya akan terasa langsung bagi pelaku usaha pariwisata,” tambahnya.
Hal senada disampaikan Ketua Lingkar Penulis Pariwisata (LPP) Kota Makassar, Hendra Nick Arthur, mengingatkan pentingnya BPPD memberi ruang untuk mengubah narasi besar tentang Makassar di tingkat nasional.
“Dulu ada stigma framing media nasional yang sering menjadikan Makassar sebagai objek liputan kriminal dan aksi unjuk rasa. Sekarang, narasi itu harus kita ubah dengan memperkuat pemberitaan positif tentang potensi wisata dan kreativitas kota ini,” kata pendiri komunitas Makassar Tourism Community (Matic) ini.
Menurutnya, Badan Promosi Pariwisata Kota Makassar (BP2M) yang dulu dikenal dengan BP3M adalah cikal bakal pembentukan badan promosi pariwisata nasional yang diatur dalam UU No.10/2009.
Tokoh pariwisata Kota Makassar seperti Nico B. Pasaka dan tokoh penggerak pariwisata lainnya telah meninggalkan sejarah yang diukir dari Kota Makassar, sehingga catatan ini jangan sampai dilupakan warga kota ini sebagai bagian dari kebanggaan kearifan lokal para pejuang dari timur Indonesia.
Keduanya sepakat, jika dikelola secara inklusif, BP2M dapat menjadi instrumen promosi yang efektif, memperkuat citra positif daerah, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata yang berkelanjutan. (*\)








