PEMIMPIN BUKAN DILAYANI TAPI MELAYANI (sebuah refleksi perjalanan)

Makassar, sulselexperience,com-Setiap manusia lahir dengan membawa takdirnya masing -masing. Sang Pencipta merahasiakan takdir hambanya (jodoh, rejeki dan mati), agar umat manusia senantiasa berlomba untuk menjadi insan terbaik di sisi Tuhannya melalui setiap usaha dan bukan berdiam diri menunggu takdir itu datang. Dalam upaya manusia untuk mencari hidup dan kehidupan yang lebih baik, manusia juga berkewajiban agar hidupnya bermanfaat bagi orang lain.

Bulan Maret 2021 adalah bulan yang istimewa bagi saya karena bertepatan dengan Ulang Tahun saya yang ke 58, yang merupakan puncak pengabdian di dunia Militer (TNI AD) selama kurang lebih 34 Tahun, serta bertepatan juga dengan perayaan Isra’ Mikraj Nabi Muhammad SAW yang merupakan perjalanan spiritual tertinggi seorang makhluk untuk menghadap langsung kepada Allah SWT. Bulan Maret juga memiliki makna sejarah penting bagi bangsa Indonesia dengan keluarnya Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) untuk mengatasi situasi keamanan yang buruk pada saat itu. Tulisan singkat tentang kepemimpinan ini merupakan sebuah refleksi perjalanan hidup yang sekaligus diharapkan dapat memberikan inspirasi bagi generasi penerus dalam melanjutkan tongkat estafet kepemimpinan di semua bidang.

Pada dasarnya, manusia dilahirkan ke dunia untuk menjadi pemimpin, setidaknya bagi dirinya sendiri. Sebagai pemimpin, manusia dituntut untuk senantiasa melakukan yang terbaik secara amanah dan berani mempertanggungjawabkan semua yang telah dilakukannya, baik dihadapan manusia maupun Tuhan. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pemimpin berarti “mengetuai atau mengepalai dan memenangkan paling banyak.” Jadi, dapat diartikan bahwa pemimpin merupakan orang yang terpilih dari sekelompok individu yang berfungsi sebagai pemandu, pelatih, serta pemilik kebijakan segala hal terhadap kelompoknya. Sehingga patutlah bagi seorang pemimpin untuk berperilaku dan bersikap yang terbaik, selalu memikirkan kepentingan yang dipimpinnya, dan menjadi contoh teladan terhadap apa yang ia pimpin.

Dihadapkan pada pengertian tersebut, puncak tertinggi dari moralitas kepemimpinan adalah apa yang disebut oleh Robert Greenleaf sebagai Servant Leadership (kepemimpinan yang melayani). Moralitas kepemimpinan tersebut juga telah tercatat dalam sejarah, seperti Chanakya pada abad ke-4 SM yang menulis dalam bukunya Arthashastra bahwa: “Raja [pemimpin] akan dianggap baik, bukan dari apa yang menyenangkan dirinya sendiri, tetapi apa yang menyenangkan rakyatnya [pengikutnya]” “raja [pemimpin] adalah pelayan yang dibayar dan menikmati sumber daya negara bersama-sama dengan orang lain.”

Ada sebuah ungkapan China yang berhubungan dengan servant leadership dalam Tao Te Ching, yang ditujukan kepada Lao-Tzu, yang diyakini tinggal di Cina kira-kira antara 570 SM dan 490 B.C.: “Jenis tertinggi penguasa adalah seseorang yang keberadaannya di tengah pengikutnya hampir tidak disadari. …Pemimpin yang bijaksana adalah orang yang merendahkan diri dan tidak banyak bicara. Ketika tugasnya selesai dan sesuatu telah selesai, Semua orang mengatakan, ‘Kami sendiri telah mencapai hal itu! ”

Konsep modern dari Servant Leadership yang dikemukakan oleh Greenleaf menggambarkan karakter pemimpin sebagai: “The servant-leader is servant first… It begins with the natural feeling that one wants to serve, to serve first. Then conscious choice brings one to aspire to lead. ….the care taken by the servant-first to make sure that other people’s highest priority needs are being served.” Terjemahan bebasnya kurang lebih, Pemimpin-pelayan adalah bertindak sebagai pelayan yang pertama… Ini dimulai dengan perasaan alami bahwa seseorang ingin melayani atau untuk melayani terlebih dahulu. Kemudian muncul kesadaran yang membawa seseorang untuk bercita-cita memimpin. …Perhatian yang diberikan oleh pemimpin-pelayan adalah untuk memastikan bahwa kebutuhan orang lain terpenuhi.

Kesadaran akan besarnya amanah dan tanggung jawab sebagai pemimpin yang melayani itulah yang selalu saya jadikan landasan berpikir sekaligus pelajaran bagi saya untuk senantiasa memberikan yang terbaik selama 34 tahun perjalanan karir saya sebagai Perwira TNI AD dengan melalui berbagai tingkatan kepemimpinan.

Proses belajar kepeimpinan seperti ini, bisa diperoleh dari kehidupan sehari-hari di lingkungan keluarga, masyarakat maupun pelatihan formal, sehingga setiap orang bisa menjadi pemimpin melalui usaha penyiapan dan pendidikan serta didorong oleh kemauan yang kuat untuk menjadi seorang pemimpin terlepas dari asal usul mereka, apakah dia memiliki genetik seorang pemimpin (lahir dari kalangan raja/bangsawan) atau masyarakat biasa.

Secara kodrati, setiap orang yang memimpin sebuah organisasi berkeinginan agar mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik, mampu mengendalikan bawahannya, merasa dihargai dan berhasil, dengan menerapkan gaya dan tipe kepemimpinan sesuai dengan apa yang mereka anut. Dari hal tersebut, muncul pertanyaan apa indikator seorang pemimpin yang dianggap berhasil ? Tentu saja yang berhak menilai keberhasilan kepemimpinan seseorang adalah masyarakat, bawahan dan nilai. Ketiga elemen ini yang menjadi tolok ukur keberhasilan seorang pemimpin.

a. Masyarakat. Seorang pemimpin selain bertanggung jawab terhadap kelangsungan internal organisasinya, juga memiliki tanggung jawab sosial untuk berbuat dan berguna bagi kepentingan masyarakat umum. Kepedulian ini dapat ditunjukkan dalam bentuk kedekatannya dan keinginan untuk berbaur dengan masyarakat. Hal tersebut akan membangun kedekatan dan citra positif di kalangan masyarakat, bukan hanya pribadi pemimpin namun akan berimbas pula pada nama baik organisasi.

b. Bawahan. Pimpinan dan bawahan adalah dua hal yang tidak terpisahkan dalam mencapai tujuan organisasi. Pemimpin yang baik akan berusaha untuk menjadi bagian dari bawahan dan menghilangkan sekat yang dapat membatasinya yang justru akan memunculkan manajemen ketakutan. Pemimpin harus selalu hadir dan menjadi solusi dari setiap permasalahan bawahan sehingga kehadirannya selalu dinantikan. Kondisi ini akan membentuk perasaan layaknya sebuah keluarga, terjalin kedekatan dan kesungguhan dari bawahan untuk bekerja maksimal karena terlepas dari ketakutan dan memiliki pikiran yang sama untuk mencapai tujuan bersama.

c. Nilai. Secara formal pemimpin memiliki masa dan akan berakhir serta tergantikan oleh yang lain. Seorang pemimpin akan meninggalkan nilai-nilai kepemimpinan terlihat dari aktivitas organisasi apakah organisasi tersebut berkembang dan mencapai tujuan serta sasarannya atau tidak. Pemimpin yang baik harus mampu membuktikan bagaimana menghadapi kesulitan dan tantangan serta keluar dari permasalahan secara cepat dan dengan langkah yang tepat serta mampu menjadi agen perubahan terhadap kondisi organisasi yang dipimpinnya menjadi lebih baik dengan terobosan dan kreasi yang dimilikinya yang tentunya sesuai dengan jalur dan ketentuan yang berlaku, baik dari segi perangkat hukum maupun norma.

Pada akhirnya, pemimpin yang baik tidak hanya mampu menciptakan pengikut, tetapi harus mampu menciptakan pemimpin-pemimpin berikutnya. Pemimpin yang baik harus menanamkan keikhlasan dalam kepemimpinannya, sehingga siap melayani masyarakat, bawahan dan organisasinya. Untuk mencapai titik ini, maka pemimpin harus menempatkan kepentingan masyarakat, bawahan dan organisasi di atas segala-galanya dan memberanikan diri untuk berkorban apa yang dimilikinya baik dari segi waktu maupun materi dengan penuh keikhlasan tanpa tendensi apapun.

Peribahasa mengatakan bahwa “Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama”. Oleh karena itu, “Ingatlah suatu saat kita akan meninggalkan jabatan saat ini. Satu langkah saja kita meninggalkannya, seketika itu juga rekan kerja, atasan, bawahan akan berbicara tentang kita, pilihlah cerita baik atau jelek yang akan mereka sampaikan”

*Mayjen TNI Andi Sumangerukka, S.E.*

Pos terkait

Tinggalkan Balasan