Oleh: Ahmad Yusran, Aktifis Lingkungan Kota Makassar
MEMASUKI tahun 2026, saya menoleh sebentar ke belakang. Tahun 2025 meninggalkan satu kenyataan yang mungkin tidak pernah diakui secara terbuka. Di antara semua sektor ekonomi, hanya satu yang benar-benar stabil di kota ini bisnis yang bernama sampah.
Namun izinkan saya memulai dari manusia, bukan dari proyek.
Namanya Nur Iksan. Usianya 25 tahun. Seorang sopir roda tiga pengangkut sampah di Bontomakkio. Ia bekerja sejak 2015, tahun di mana sebagian orang mulai sibuk bicara inovasi pengelolaan lingkungan, sementara di lorong-lorong sempit, bau menyengat tetap setia menemani.
Dengan bensin 5 liter sehari dan gaji Rp 2,4 juta per bulan, ia bangun lebih pagi dari sebagian pembuat kebijakan. Di rumah, empat anaknya menunggu. Si bungsu masih tenggelam dalam layar HP, mungkin belum tahu bahwa ayahnya bukan sedang mengejar mimpi tetapi menahan agar kota ini tidak tenggelam dalam timbunan sampah.
Kalau lorong terlihat bersih, kita menyebutnya “layanan publik berjalan baik”. Kalau kotor, kita menyebutnya “masalah perilaku warga”.
Dan para sopir roda tiga seperti Iksan? Biasanya tidak disebut sama sekali.
Roda Tiga, Proyek Besar, dan Ekonomi Gunungan Sampah
Di Kecamatan Rappocini, timbulan sampah mendekati 400 m³ per hari. Angka ini sering tampil rapi dalam presentasi resmi. Namun, yang jarang disebut adalah kenyataan sederhana ini.
Semakin banyak sampah,
semakin relevan proyeknya,
semakin besar anggarannya.
Maka jangan heran jika sampah di kota ini seperti selalu punya masa depan cerah.
Ia tidak pernah benar-benar ingin dikurangi.
Ia hanya ingin dipindahkan lebih cepat, supaya terlihat tertangani.
Roda tiga difoto, dipuji, dan diarak sebagai ikon solusi. Padahal, bagi sebagian pihak, roda tiga ini mungkin lebih bernilai sebagai alat legitimasi kebijakan ketimbang sebagai penyelamat lingkungan.
Sementara itu, bank sampah, gerakan warga, edukasi pengurangan di sumber sering kali berdiri sendirian. Dukungan ada, tetapi setengah hati. Mungkin ada ketakutan kecil, bagaimana jika suatu hari sampah benar-benar berkurang? Akan jadi apa semua proyek ini?
Pertanyaan polos. Tetapi rupanya terlalu sensitif untuk dijawab jujur.
Di atas kertas, kita bicara circular economy.
Di lapangan, yang berputar justru anggaran. Dan ironisnya, yang paling circular adalah retorika.
Ketika Sampah Bisu, Publik Pun Harus Diam
Hal yang paling berbahaya dari politisasi sampah bukanlah bau busuknya. Yang paling berbahaya adalah ketika publik dipaksa percaya bahwa masalah ini terlalu rumit untuk diselesaikan sehingga pemborosan, proyek berulang, dan kebijakan tambal-sulam dianggap wajar.
Sementara di lorong-lorong kecil, warga tetap hidup berdampingan dengan realitas yang tak pernah jauh dari hidung mereka.
Saya tidak menolak armada.
Saya tidak menolak teknologi.
Saya hanya menolak ketika sampah diperlakukan lebih sebagai sumber devisa politik daripada sebagai ancaman lingkungan.
Karena yang paling menderita bukan mereka yang memutuskan, tetapi mereka yang mengangkut.
Bukan mereka yang membuat nota dinas, tetapi mereka yang menarik gerobak.
Bukan mereka yang tersenyum di depan podium, tetapi anak-anak yang bermain dekat TPS.
Pada titik ini, sampah bukan lagi persoalan teknis. Ia sudah menjadi cermin moral.
Dan pantulan itu tidak selalu indah. Jika kota ini benar-benar ingin bersih Maka mari mulai dari kejujuran.
Kejujuran dengan pengurangan sampah harus dimulai dari sumber. Partisipasi warga tidak boleh sekadar jargon. Transparansi anggaran adalah kewajiban, bukan pilihan. Dan manusia di balik roda tiga harus dihargai melebihi armadanya
Karena kota yang sehat bukan hanya yang jalanannya disapu, tetapi yang nuraninya masih bekerja.
Keberhasilan lingkungan tidak diukur dari berapa banyak proyek kita buat,
melainkan dari seberapa kecil jejak yang kita tinggalkan.
Dan jika suatu hari sampah benar-benar berkurang, semoga bukan kebijakan yang kehilangan alasan keberadaannya, melainkan politik yang akhirnya menemukan kembali arah moralnya.
Salam hijau — tanpa markup.
Ketua Forum Komunitas Hijau (FKH) Kota Makassar








