[OPINI] Penulis Pariwisata, Air Asia dan FOMO

Oleh: Bambang Haryanto

PERNAHKAH Anda bertanya mengapa Makassar, yang kini kita kenal sebagai kota ramah wisata dan bisnis, di satu masa justru kerap dicap sebagai “kota keras”? Ingatan saya langsung terlempar ke tahun-tahun ketika media elektronik, khususnya televisi nasional, menjadikan Makassar headline bukan karena keelokannya, melainkan aksi-aksi unjuk rasa yang berujung ricuh, tawuran antarkampung, hingga keributan jalanan. Semua itu menjadi santapan rutin layar kaca, dan citra kota ini perlahan-lahan tereduksi.

Di tengah situasi itu, almarhum Nico B. Pasaka, kala itu Direktur Eksekutif Badan Promosi Pariwisata Kota Makassar (BP2M), mengajak sebagian dari teman-teman para jurnalis, penulis, dan pemerhati pariwisata untuk tidak sekadar mengeluh, tetapi bertindak.

“Kalau media mainstream terus-menerus memotret Makassar sebagai kota konflik, siapa yang akan menulis wajah lain kota ini?” begitu kira-kira semangat beliau. Dari sanalah lahir sebuah wadah yang kami namai Lingkar Penulis Pariwisata, atau akrab disebut Makassar Travel Writer.

Komunitas kecil ini hadir bukan hanya untuk menulis destinasi wisata, tetapi juga untuk mengimbangi arus narasi negatif. Kami percaya, berita baik juga butuh jaringan. Maka, yang lahir kemudian adalah lingkaran pertemanan lintas media LKBN Antara, Harian Fajar, Tribun Timur, BKM, Upeks, Sindo hingga media kampus. Kopi sore menjadi forum editorial, di mana obrolan ringan bertransformasi menjadi strategi narasi.

Dan menariknya, momentum itu beririsan dengan kehadiran maskapai Air Asia di Makassar. Tahun 2008, saat saya mendampingi Bapak Ama Sain, Kadispar Sulsel kala itu, menerima tim marketing Air Asia, kami meyakinkan bahwa Sulsel adalah pasar potensial. Ada tiga segmen yang jelas leisure traveler, business traveler, dan VFR traveler (Visit Friends and Relatives). Tak lama, rute KUL–UPG–KUL resmi dibuka, dua kali seminggu dengan Airbus A320 berkapasitas 180 kursi.

Komunitas Makassar Travel Writer pun mengambil peran. Melalui tulisan-tulisan di media, kami ikut mengkampanyekan tagline legendaris Air Asia “Now Everyone Can Fly”. Kami menjelaskan apa itu LCC (Low Cost Carrier), bagaimana konsep penerbangan tanpa inflight meal, sistem point to point, hingga filosofi satu pabrikan untuk efisiensi. Sesuatu yang kala itu baru bagi masyarakat kita.

Ingatan saya juga menempel pada tahun 2009, ketika rombongan dokter dan manajemen rumah sakit dari Malaysia mendarat di Makassar dengan Air Asia. Dari situlah rantai wisata kesehatan mulai berkembang. Tahun 2010, kami bahkan kedatangan 16 jurnalis Malaysia dalam fam trip yang difasilitasi KJRI KL, Kemenparekraf, dan Air Asia. Sore itu, sambil menyeruput kopi di Pantai Gapura, kami bertukar cerita dan menanam benih narasi positif tentang Makassar.

Sejak itu, warga Sulsel dan Kawasan Timur Indonesia mulai melihat Malaysia bukan sekadar tujuan medis, melainkan gaya hidup. FOMO, Fear of Missing Out, membuat traveling ke luar negeri menjadi tren sebuah identitas sosial baru.

Kini, 2025, Air Asia terbang setiap hari rute KUL–UPG–KUL dengan seat load factor di atas 90%. Selain wisata dan bisnis, pasar umrah juga menjadi tulang punggung sejak enam tahun terakhir. Dan di balik semua capaian itu, saya percaya ada satu hal yang tidak boleh dilupakan adalah komunitas kecil yang lahir dari kegelisahan Lingkar Penulis Pariwisata (LPP)

Kami mungkin tidak lagi seaktif dulu, sebagian telah berpencar, ada pula yang berpulang. Namun jejaknya tetap ada, bahwa narasi positif bisa mengubah citra sebuah kota. Dan bahwa segelas kopi sore bisa menjadi awal dari sejarah panjang pariwisata Sulawesi Selatan. (*\)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan