Maros,Experience — Sebagai tindak lanjut dari Pertemuan desiminasi audit kasus stunting, Selasa 22 Agustus 2023 dibaruga B kantor Bupati Maros, Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Kabupaten Maros.
Dinas DP3A Dalduk KB kebupaten Maros bergerak cepat turun langsung ke sasaran dengan melibatkan beberapa unsur diantaranya Tim Tekhnis/Pakar, Tim TPK desa, Babinsa AD dan AU, Babinkantibmas serta satgas Stunting.
Sasaran lokus di delapan Kecamatan lokus yaitu Kecamatan Turikale, Maros Baru, Bontoa, Mandai, Mallawa, Bantimurung, Moncongloe,dan Simbang.
Dengan sasaran yakni Calon Pengantin diantaranya terlalu Muda, Terlalu Tua,KEK (Kurang Energi Kronik), Anemia, terpapar asap rokok, factor resiko dari sisi psikolog(menikah terlalu muda karena masalah ekonomi keluarga, orang tua cemas dengan pergaulan anak-anak. Ibu Hamil (Bumil) terdiri dari Terlalu (Terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat), KEK (Kurang Energi Kronik).
Anemia,terpapar asap rokok, memiliki Riwayat penyakit penyerta (penyakit degenerative:hipertensi,diabetes; asma) Ibu Pasca salin (Bupas) terdiri dari Tidak ber KB (KB Pasca Salin), terlalu (Terlalu muda, terlalu tua,terlalu banyak, terlalu dekat), terpapar asap rokok
Baduta terdiri dari Usia di bawah 2 tahun,lahir premature, tidak imunisasi, tidak ASI Eksklusif,memiliki penilaian status gizi PB/U < -2 SD,pernah sakit (demam,batuk kronik,Sarampa,diare kronik),juga factor resiko dari ibu yang Ketika hamil tergolong bumil KEK
Sebagai kesimpulan dan tindak lanjut dari kegitan tersebut diantaranya : Pemerintah Kab Maros harus melakukan lebih banyak sosialisasi dan KIE terhadap Calon Pengantin (Catin) tentang perbaikan gizi Pre Natal (sebelum proses kehamilan),pentingnya konsumsi TTD (Tablet Tambah Darah)
Pemerintah Kab Maros memberikan KIE kepada Catin Perempuan terutama yang terlalu muda < 19 tahun agar menunda kehamilan, dan juga tentang konsepsi kehamilan
Melakukan kunjungan rumah sasaran untuk memberikan KIE kepada catin lakilaki dan perempuan agar menghindari asap rokok dan mencegah paparan rokok pasif bagi catin perempuan Ketika sudah berumah tangga Pemerintah Kab Maros melakukan lebih banyak KIE kepada catin.
Ibu hamil dan pasca salin tentang management laktasi , hal ini dilatarbelakangi dengan masih rendahnya angka menyusui pada ibu hamil dan ibu menyusui dan juga pemahaman catin tentang hal tersebut yang menyebabkan faktor resiko terjadi anak stunting semakin besar.
Perlibatan orang tua,pihak sekolah,dan lingkungan untuk mencegah terjadinya pernikahan anak bisa menjadi beberapa langkah solutif
Pemerintah perlu membentuk kader posyandu dan kader TPK peduli catin, bumil,bupas,dan baduta dengan melakukan edukasi,pemantauan Kesehatan catin, dan edukasi pola hidup sehat dan makan dengan gizi seimbang pada saat konseling pra nikah,konseling Ketika masa hamil,masa nifas dan pasca salin serta pada masa anak usia di bawah 2 tahun,terutama tentang keterampilan mengolah
MP ASI yang bergizi dan tidak mahal.
Melakukan penjaringan (screening) sasaran terutama bumil, bupas dan
baduta/balita terutama yang KEK, untuk pencegahan penurunan stunting mulai
dari tingkat posyandu atau Puskesmas Keliling
Perlibatan lintas sektor yang lebih jelas dan terang, lintas sector mana yang
mengerjakan intervensi sensitive dan mana yang mengerjakan intervensi spesifik
untuk percepatan penurunan stunting
8. Memastikan tenaga kesehatan bekerjasama dengan TPK dalam memberikan
Pelayan medis khususnya bagi bumil beresiko stunting, antara lain USG minimal 2 kali selama kehamilan untuk mengetahui kondisi janin, melakukan ANC (Antenatal Care) teratur selama kehamilan sebanyak 6 kali di fasilitas kesehatan
Membuka dan menjalin Kerjasama dengan pihak Universitas,menjadi salah satu bentuk pencegahan stunting Bersama Mitra, untuk melakukan pengabdian Masyarakat dengan tema Manajemen psikologis untuk Ibu Hamil.
Memberikan Psikoedukasi tentang pentingnya menjaga jarak kehamilan untuk kesejahteraan Ibu dan Anak
11. Memberikan pemahaman kepada para orang tua tentang siklus pasca salin,
termasuk pemenuhan gizi bagi bupas, anak baduta, dan juga bagaimana
memberikan pemahaman kepada orang tua tentang merawat bayi kecil,sehingga
tidak menimbulkan factor resiko penyebab stunting
Perlu melibatkan stake holder yang menyeluruh,mulai dari tingkat
desa/kelurahan,kecamatan,kabupaten,dan juga pihak lain yang berkompeten
ketika sasaran AKS dilakukan rujukan oleh tim Pakar
Penting untuk melakukan pemantauan dengan baik terhadap bayi premature,sehingga pencegahan terhadap resiko stunting dapat diantisipasi sejak awal 14. Penting untuk memberikan pemahaman melalui KIE kepada para orang tua tentang IMD (Inisiasi Menyusui Dini),bahaya asap rokok untuk bumil, anak baduta balita,dan bupas.
Pemberian pelatihan atau pembekalan terhadap tenaga lapangan (PKB/PLKB,TPK) agar dapat menuliskan perkembangan anak secara kualitatif,penggunaan KKA dan memahami tumbuh kembang anak,sehingga dapat mengajarkan orang tua tentang pertumbuhan dan perkembangan anaknya.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk Dan Keluarga Berencana Kabupaten Maros Andi Zulkifli Riswan Akbar , S.STP mengatakan salah satu strategi percepatan penurunan stunting adalah pencegahan stunting dari hulu.
Untuk itu menerapkan menerapkan bahwa pencegahan stunting dimulai dari keluarga, hal ini dilatar belakangi pihak keluarga menjadi bagian penting dari pencegahan stunting.
Oleh karena itu, Lanjutnya, sasaran utama yang perlu mendapatkan perhatian khusus adalah pada calon pengantin, ibu hamil, ibu pascasalin, dan Baduta/Balita.
Andi zulkifli menambahkan, bahwa peran berbagai lintas sektor menjadi strategi berikutnya dalam percepatan penurunan stunting, sehingga masalah stunting dapat dicegah, melalui intervensi sensitive dan juga intervensi spesifiknya, dengan berbagai peran sesuai dengan fungsinya masing-masing pihak.(*)
Editor//Experience//Online//Hasim.








