Makassar, Experience – Dunia penyiaran Sulawesi Selatan berduka. Aswar Hasan, mantan Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sulsel sekaligus sahabat dekat para praktisi radio, meninggal dunia pada Rabu malam, 13 Agustus 2025.
Bagi mereka yang pernah bekerja bersamanya, Aswar bukan sekadar narasumber, melainkan guru yang mengajarkan integritas, etika, dan kesantunan tanpa pernah berdiri di depan papan tulis.
Canny Watae, jurnalis senior sekaligus pendiri stasiun radio berita di Makassar, mengingat jelas awal perkenalannya dengan Aswar pada 2003.
Saat itu, Aswar datang dengan motor “Binter andalan” untuk mengisi talkshow. “Beliau selalu merespon kalau kami menghubungi. Narasumber yang siap kapan saja,” kenang Canny.
Kenangan yang ia simpan tidak hanya soal siaran. Ada kisah mobil dinas tua Aswar yang tak sengaja jadi bahan candaan on air, memicu pelajaran berharga tentang etika siaran. Ada pula buku Confessions of an Economic Hit Man yang dipinjamkan Aswar, memicu diskusi panjang tentang ekonomi global dan Sulawesi Selatan.
Hal serupa juga dikisahkan Dedy Alamsyah, mantan reporter Radio Smart FM Makassar, Aswar adalah sosok yang “tahu diri, tahu bataslah.” Ia mengaku sering mewawancarai Aswar antara 2002 hingga 2007, baik rekaman maupun live. Bahkan dua minggu sebelum wafat, meski terkena stroke, Aswar masih menulis artikel untuk media cetak.
“Beliau bilang, ‘saya sakit fisik, tapi tidak otak saya, Dinda’,” kata Dedy. Artikel terakhirnya dimuat di Harian Fajar pada 7 Agustus 2025, hanya enam hari sebelum ia berpulang.
Sahabatnya, Andi Herry Iskandar, menggambarkan Aswar sebagai sosok santun sekaligus sombere’. “Ada orang sombere’, tapi belum tentu santun. Almarhum itu dua-duanya.” Sementara Pahir Halim menyebutnya kader PII (Pelajar Islam Indonesia) yang sering disangka kader HMI karena kerap diminta menjadi pemateri di forum mahasiswa.
Di mata para praktisi radio, Aswar Hasan adalah guru tanpa papan tulis. Ia mengajarkan bagaimana menjadi komunikator publik yang rendah hati, terbuka pada dialog, dan teguh memegang prinsip.
Kepergiannya meninggalkan ruang kosong di dunia penyiaran Sulsel, namun juga warisan nilai yang akan terus hidup di hati mereka yang pernah belajar darinya. (*\)








