Ketemu Dubes Indonesia Untuk Turki , Muzayyin Arif Bahas Peluang Kerjasama Antar Negara

oleh -28 views
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

EXPERIENCE, Makassar – Wakil Ketua DPRD Sulsel Muzayyin Arif bertemu Duta Besar Indonesia untuk Turki, M.E DR. Lalu Muhammad Iqbal, di kantor kedutaan besar Indonesia di Sukarno street, no 42/1, cankaya, Ankara. Jum’at 07/01/2022

Dalam kunjungannya wakil ketua dprd sulsel ini banyak informasi soal posisi hubungan kerjasama antara Indonesia – Turkey dan peluang kerjasama antar kedua negara khususnya di bidang , Infrastruktur,Pendidikan
dan Pariwisata .

Ikut juga bersama rombongan diantaranya :
Ust.Mujawwid Arif – Pimpinan Pesantren, Gunandar Azikin – Pengusaha Kuliner, Ibu Ratna – Penyuluh Agama, Praktisi pendidikan
,Burhan – Pengusaha Kopi, Akbar ,Pengusaha cafe dan sekertaris asosiasi badan pemerintah desa kab.Maros.

Dalam kesempatan yang berharga tersebut saya sebagai wakil ketua dprd sulsel menyampaikan harapan dan usulan agar hubungan kerjasama dapat dijalin secara spesifik dengan pemerintah daerah sulsel di bidang ekonomi dapat ditingkatkan dengan meningkatkan akses pasar, terutama untuk komoditas pertanian, perikanan dan pariwisata.

Dubes merespon positif dan akan menjajaki kemungkinan kerjasama tersebut, bahkan beliau menyampaikan potensi investasi di bidang infrastruktur dari Turkey untuk Sulsel, beliau bahkan menyatakan kesediaan memfasilitasi kerjasama dengan kontraktor Turkey, apalagi menurut beliau Turkey adalah negara terbesar kedua setelah China yang berinvestasi di bidang infrastruktur di luar Negeri.

Politisi PKS ini mengatakan bahwa kunjungan ini menjadi pembuka kerjasama tersebut, apalagi ini adalah kunjugan perdana dari daerah ke kantor kedubes indonesia yang baru dibuka 1 desember 2021.

Kantor Kedubes RI yang baru, berdiri di jalan Sukarno, Wilayah Cankaya provinsi Ankara. Nama jalan ini diambil dari nama presiden pertama indonesia sebagai penghormatan Pemerintah Republik Turkey kepada Negara kita.

Pertemuan berlangsung sangat hangat dan penuh keakraban, bahkan sesekali menyelipkan bahasa arab dalam obrolannya karena menurut beliau sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di pesantren kita tidak mungkin menghapus status kita sebagai Santri sepanjang hayat tutup beliau. (Rls/U Nai/**)