oleh

Kisah Guru SMAN 17 Makassar Hadir Menginspirasi Melalui Puisi dan Buku Edisi Terbitan

Makassar, Experience – Puisi bukan saja sekedar lisan dan irama sugesti yang akan menggema merdu ditelinga penggemar akan tetapi dapat menjadi pesan isyarat bagi penikmatmatnya.

Demikian hal tersebut di ungkapkan seorang guru Fisika SMA Negeri Makassar Murnih Aisyah kepada sulselexperience.com yang kerap berharap dapat menginspirasi siswa siswi nya.

“Semua orang punya kesempatan menikmati indahnya Ramadhan, berpuasa, berzakat, dan beribadah lainnya. Tapi tidak semua orang mampu mencapai kebahagiaan dan kemenangan di ujung Ramadhan, senja terakhir” Puisi yang melatar belakangi seoran ibu tiga orang anak ini menerbitkan kisah inspiratifnya.

Ramadhan tahun 2020 puisi ini ditulis ulang dengan beberapa revisi di dalamnya untuk diikutsertakan dalam pendengar program “Nulis dan Baca Puisi Bersama” jelang hari kemenangan ‘Idul Fitri 1441 Hijriah.

Adapun puisi senja terakhir karya Murnih Aisyah ini dicipta pada Ramadhan tahun 2019, sempat diikutkan pada event lomba khusus calon anggota di Ranting Unismuh dan meraih juara kedua. Ungkapnya

Bahkan puisi “Senja Terakhir” telah dibukukan dalam sebuah antologi puisi Nusantara dan Malaysia dengan judul “Jiwa-jiwa yang Bahagia dan Menang” yang diterbitkan oleh Penerbit Syahadah.

Dirinya berharap selain pelajaran study sekolah dirinya berharap para siswa dan siswi melalui tulisan-tulisanya bisa menginspirasi banyak orang, termasuk siswa dan teman-teman sejawat. Pesan moral selalu saya selipkan di dalam tulisan-tulisan saya, bagaimana memaafkan, berbakti kepada orang tua, etos kerja, dan sebagainya.

Lanjut tulisan tulisan yang telah diterbitkan antaralain kisah tunggal yang di terbitkan adalah sebuah Novel berjudul Pulang, kemudian buku inspiratif berjudul Guru Perindu Langit, dari sekumpulan tulisan inspiratif guru-guru Sul-Sel

“Terakhir yang saya terbitkan Antologi puisi “12 Pena Berbicara”. Tulisan lintas budaya dan lintas generasi dari 12 prang penulis beda usia, beda profesi, dan beda kebudayaan dan beberapa buku Antologi puisi yang diterbitkan bersama.

Pesan moralnya mari memperkaya diri dengan membaca, mari mengabadikan kisah dengan menulis. (*/)

Komentar

Topik