Makassar, Experience — Di balik senyum manis dan adegan romantis yang terpampang di layar lebar, dua bintang muda Indonesia, Michelle Ziudith dan Giorgino Abraham, rupanya menjalani proses batin yang mendalam saat memerankan tokoh utama dalam film “Jangan Panggil Mama Kafir”.
Film garapan Dyan Sunu Prastowo ini tidak sekadar bercerita tentang cinta lintas agama antara Maria dan Fafat, tapi juga menjadi ruang refleksi bagi kedua pemerannya untuk memahami makna iman, kasih, dan kemanusiaan dari sisi yang berbeda.
Bagi Michelle Ziudith, peran sebagai Maria bukan sekadar tantangan akting tapi perjalanan spiritual. Sebagai seorang Muslimah, ia harus menjiwai kehidupan seorang perempuan Nasrani yang teguh beriman dan berjuang mempertahankan cintanya.
“Saya belajar banyak tentang bagaimana seseorang mempertahankan keyakinan dengan cara yang lembut. Maria membuat saya lebih menghargai cara orang lain mencintai dan berdoa,” ujar Michelle pelan, usai pemutaran film di Makassar.
Sementara itu, Giorgino Abraham, yang memerankan Fafat seorang pria Muslim yang tetap menjaga imannya di tengah cinta berbeda keyakinan justru berangkat dari posisi sebaliknya. Sebagai seorang Nasrani, ia harus memahami bagaimana seorang Muslim memaknai cinta dan tanggung jawab spiritualnya.
“Awalnya sulit, karena saya takut tidak cukup menghormati karakter yang saya perankan. Tapi Hanung banyak membimbing saya. Beliau menunjukkan bahwa iman itu bukan sekat, tapi jalan untuk saling memahami,” ucap Giorgino.
Sutradara Dyan Sunu Prastowo yang dikenal taat beribadah menjadi sosok penting dalam proses pendalaman karakter mereka. Di lokasi syuting, Dyan kerap mengajak seluruh kru berdoa bersama dengan cara masing-masing sebelum kamera mulai merekam.
“Saya terharu setiap kali momen itu datang. Kami berdoa bersama, berbeda cara tapi satu tujuan: meminta kedamaian. Rasanya hangat sekali,” kenang Gio Abraham.
Film ini bukan sekadar kisah cinta yang tragis, melainkan cermin tentang bagaimana iman dan kasih bisa berdialog tanpa harus saling menghakimi. Penonton di Makassar yang hadir dalam nonton bareng bahkan banyak yang menitikkan air mata, terutama pada adegan ketika Maria harus memilih antara keyakinan dan cinta sejatinya.
“Film ini bikin saya berpikir ulang tentang makna cinta. Bahwa kadang, cinta yang paling tulus justru adalah yang paling sulit dipertahankan,” ujar Rizka Nurul (23), salah satu penonton di XXI Mall Nipah.
Dengan sinematografi lembut dan akting penuh emosi, “Jangan Panggil Mama Kafir” berhasil menggugah penonton bukan hanya untuk menyaksikan kisah cinta yang rumit, tetapi juga untuk merenungkan kembali makna toleransi dan kemanusiaan di tengah keberagaman.
“Saya berharap penonton tidak hanya melihat perbedaan iman, tapi juga cinta yang universal. Karena di balik setiap keyakinan, selalu ada kasih yang sama,” tutup Gio dengan senyum hangat. (*\)








