[OPINI] Saatnya Berhenti Berwacana, Pariwisata Makassar Butuh Eksekusi Nyata

Oleh: Zulkarnaen Rahmat Sumakno Konsultan Tourism Development

SETIAP tahun, Wali Kota Makassar menghadapi tantangan yang sama, bagaimana menjadikan pariwisata dan ekonomi kreatif sebagai lokomotif penciptaan lapangan kerja. Namun, persoalan ini terus berulang tanpa jawaban yang tuntas.

Hal ini terungkap dalam Rembuk Pentahelix Pariwisata Makassar yang digelar komunitas Makassar Tourism Community (Matic) di Four Point Hotel beberapa waktu yang lalu.

Penyebabnya bukan karena kurang ide atau gagasan. Justru sebaliknya, forum-forum pariwisata kita terlalu penuh dengan wacana.

Stakeholder pariwisata sibuk menyusun rencana program, namun sedikit sekali yang benar-benar dieksekusi.

Bacaan Lainnya

Akibatnya, promosi daerah jalan di tempat, sementara potensi besar Makassar hanya menjadi cerita dari rapat ke rapat.

Ego sektoral dalam kolaborasi pentahelix daerah menjadi hambatan nyata. Pemerintah ingin dominan, akademisi sibuk dengan kajian, komunitas hanya bergerak dalam lingkup kecil, industri pariwisata jalan sendiri, dan media lebih sering dijadikan corong seremonial. Alhasil, tidak ada energi kolektif yang mampu menjawab tantangan wali kota.

Padahal, persoalan ini tidak bisa lagi ditunda. Makassar butuh keberanian melangkah keluar dari jebakan wacana.

Butuh sinergi yang jujur dan eksekusi nyata di lapangan mulai dari penguatan destinasi, penciptaan paket wisata kreatif, hingga konsistensi branding kota sebagai hub pariwisata Indonesia Timur.

Jika stakeholder terus terjebak dalam pola lama, maka setiap tahun Wali Kota Makassar akan menghadapi persoalan yang sama, dan pariwisata kita hanya akan menjadi agenda rutin tanpa kemajuan berarti.

Saatnya berhenti sekadar membicarakan rencana. Mari jadikan Makassar contoh bagaimana pentahelix benar-benar bekerja bukan sekadar jargon, melainkan kolaborasi nyata untuk menjawab tantangan kota ini. (*\)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan