Oleh Farid Mamma, S.H., M.H.
DELAPAN puluh tahun Indonesia merdeka. Tapi benarkah semua rakyat sudah benar-benar merasa merdeka terutama di hadapan hukum?
Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia seharusnya tak sekadar seremoni. Ia adalah waktu yang tepat untuk bercermin. Sejauh mana nilai-nilai kemerdekaan, keadilan, dan pengabdian kepada rakyat benar-benar kita wujudkan dalam praktik?
Sebagai anak dari seorang polisi, yang tumbuh besar di lingkungan kepolisian, saya menyaksikan langsung bagaimana sosok ayah saya mendedikasikan hidupnya bagi institusi ini.
Bagi kami, polisi bukan sekadar profesi tapi kehormatan. Karena itulah saya tak pernah bisa tinggal diam saat ada oknum yang mencederai nama baik institusi tersebut.
Sebagai Direktur PUKAT Sulsel, saya merasa berkewajiban untuk bersuara saat ada dugaan penyalahgunaan wewenang, pelanggaran hukum, atau praktik-praktik yang mencoreng marwah kepolisian. Sayangnya, suara kritis ini kerap disalahpahami seolah kami memusuhi institusi. Padahal justru sebaliknya, kami sedang membela institusi dari dalam, dari tangan-tangan yang menyalahgunakan kekuasaan.
Kemerdekaan sejati bukan hanya bebas dari penjajahan fisik, tapi juga dari ketakutan, kesewenang-wenangan, dan ketidakadilan. Dan dalam konteks itu, aparat penegak hukum punya peran vital sebagai pelindung hak-hak warga negara.
Kami percaya masih banyak polisi baik, yang menjunjung tinggi nilai Tribrata dan Catur Prasetya. Tapi keberadaan mereka pun ikut tercoreng jika perilaku oknum dibiarkan.
Bila kritik terhadap oknum dianggap sebagai serangan terhadap institusi, maka kita sedang mundur dari semangat reformasi hukum yang diperjuangkan sejak awal kemerdekaan.
Kemerdekaan bukanlah hadiah. Ia adalah amanah. Dan setiap lembaga negara, termasuk kepolisian, wajib menjaganya.
Hari ini, di tengah peringatan kemerdekaan, mari kita bersama-sama merawat nilai-nilai luhur itu: keadilan, keberanian, dan kejujuran.
PUKAT Sulsel akan terus berdiri sebagai mitra kritis, bukan musuh. Sebab bagi kami, membela institusi berarti juga menjaga marwahnya dari tangan-tangan yang mengkhianati rakyat.
Catatan Redaksi
Opini ini ditulis dalam rangka refleksi Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-80, sebagai panggilan moral untuk memperkuat supremasi hukum yang adil, transparan, dan berpihak pada rakyat. (*\)








