Makassar, Experience — Ibnu Khaldun, seorang bapak sosiologi generasi awal yang terkenal dengan karya magnum opusnya Muqaddimah itu menyatakan bahwa “manusia itu ditimbang dari ucapannya dan dinilai dari perilakunya.” Bagaimana sesungguhnya kepribadian seseorang bisa dilihat dari kesesuaian atau ketidak sesuaian antara ucapan dan perbuatannya.
Dalam perspektif sosiologi, masyarakat modern bergerak dalam struktur yang cair dan terus-menerus berubah. Di sinilah pentingnya nilai konsistensi sebagai jangkar sosial yang menjaga kepercayaan publik.
Ketika individu terlebih mereka yang memiliki kekuasaan tidak menunjukkan kesesuaian antara apa yang diucapkan dan dilakukan, masyarakat mudah kehilangan orientasi nilai. Kekecewaan publik terhadap pemimpin yang ingkar janji bukan sekadar ekspresi emosional, melainkan reaksi terhadap kegagalan moral yang berdampak luas pada keharmonisan sosial.
Sosiolog Emile Durkheim mengingatkan bahwa solidaritas sosial tumbuh dari nilai-nilai yang dianut bersama, seperti kejujuran dan konsistensi. Ketika tokoh-tokoh publik memegang teguh nilai tersebut, masyarakat akan bergerak ke arah kesejahteraan sejati.
Namun jika ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan justru menjadi budaya, maka masyarakat terancam mengalami anomie kehilangan pedoman moral, yang pada akhirnya melahirkan apatisme dan ketidakpercayaan.
Seseorang akan disebut sebagai pribadi yang konsisten ketika ucapannya adalah satu irama dengan perbuatannya, dan disebut sebagai opportunist ketika ucapannya berada di sisi yang berlawanan dengan perilakunya.
Pribadi yang konsisten adalah pribadi yang sangat didamba untuk menjadi sahabat, teman , tokoh dan panutan, karena pribadi seperti inilah yang akan memberikan kepastian dan menutup kemungkinan hadirnya kebingungan.
Konsistensi adalah bersubstansikan kejujuran, keterusterangan dan kekokohan berpegang pada prinsip yang dipegangnya.
Alfred Adler, seorang psikolog menyatakan bahwa perilaku seseorang sangat dipengaruhi oleh ucapannya. Ucapan seseorang sangat dipengaruhi oleh pemikirannya.
Dalam kajian psikologi, bentuk yang paling elementer dari teori kognitif yang berkaitan dengan konsistensi adalah bahwa “thinking shapes behavior” (pemikiran itu membentuk perilaku).
Jelas sekali menurut teori ini bahwa pemikiran, ucapan dan perilaku merupakan urutan yang berkaitan.
Poinnya adalah seseorang layak disebut sebagai guru kehidupan atau guru bangsa ketika pemikiran, ucapan dan perilakunya menggambarkan potret normal manusia yang penuh dengan nilai-nilai kebenaran, kesejukan dan kedamaian.
Sementara itu, mereka yang antara pemikiran dan ucapannya berbeda atau antara ucapan dan perilakunya berlawanan adalah sekelompok manusia yang tidak layak ditiru dan diteladani karena di dalam jiwa mereka tersimpan hasrat yang tidak lumrah dan motif yang tidak kaprah dalam ukuran etika manusia baik.(*)
Editor//Experience//Online//Hasim.








