Mengembalikan Citra Pariwisata Makassar Pasca Terbakarnya Gedung DPRD

Oleh: HM. Azhar Gazali

 

TRAGEDI terbakarnya Gedung DPRD Kota Makassar menjadi luka kolektif, bukan hanya bagi dunia politik, tetapi juga bagi citra kota. Bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, peristiwa ini menambah beban berat di tengah upaya pemulihan dari berbagai tantangan global dan regional. Kota Makassar sebagai gerbang Indonesia Timur seharusnya tampil sebagai kota yang ramah, modern, dan terbuka. Namun citra ini mudah terguncang ketika simbol pemerintahan justru diliputi konflik dan krisis.

Di tengah situasi ini, pertanyaannya bukan sekadar bagaimana kita memperbaiki gedung, tetapi bagaimana kita mengembalikan kepercayaan. Pariwisata adalah industri kepercayaan. Wisatawan datang karena merasa aman, nyaman, dan yakin mereka akan mendapat pengalaman yang positif. Jika kepercayaan itu hilang, kursi kosong di hotel, agen perjalanan, restoran, hingga event daerah menjadi tanda lemahnya denyut ekonomi kota.

 

Bacaan Lainnya

Kolaborasi Pentahelix sebagai Jalan Pulih

Makassar membutuhkan pendekatan pentahelix pariwisata mulai dari pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, hingga media. Tidak ada satu unsur pun yang bisa berjalan sendiri. Pemerintah perlu menghadirkan regulasi dan kebijakan yang memberi kepastian.

Akademisi memberikan riset, kajian, serta inovasi. Dunia usaha menciptakan lapangan kerja dan investasi. Media mengangkat narasi positif yang berimbang. Dan komunitas menjadi wajah nyata yang menyambut wisatawan.

 

Aktivasi Kembali BP2M

Salah satu langkah konkret yang bisa segera diambil adalah mengaktifkan kembali Badan Promosi Pariwisata Kota Makassar (BP2M). Badan ini sejatinya dirancang sebagai motor promosi pariwisata kota yang berbasis pada kolaborasi multipihak. Dengan menghidupkan kembali BP2M, promosi pariwisata Makassar bisa lebih terstruktur, konsisten, dan berkelanjutan. Bukan sekadar event sesaat, tetapi kampanye citra yang menghubungkan Makassar dengan dunia.

BP2M dapat menjadi ruang bersama bagi stakeholder pentahelix untuk duduk setara. Pemerintah menyediakan fasilitasi dan kebijakan. Komunitas pariwisata dan ekonomi kreatif menyumbangkan kreativitas. Dunia usaha mendukung dengan pembiayaan dan jejaring. Media menguatkan amplifikasi pesan. Sementara akademisi memastikan semua program berbasis data dan riset yang valid.

 

Menjaga Citra, Menguatkan PAD

Perlu kita ingat, PAD Kota Makassar terbesar kedua berasal dari pajak hotel dan restoran. Itu berarti denyut pariwisata langsung berkontribusi pada keberlangsungan layanan publik. Jika citra pariwisata merosot, maka dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku industri, tetapi juga masyarakat luas. Karena itu, memperbaiki citra pariwisata sama pentingnya dengan memperbaiki simbol politik yang terbakar.

Kami dari Makassar Tourism Community (MATIC) meyakini, momentum pasca-tragedi ini bisa menjadi titik balik. Bukan dengan drama politik, melainkan dengan kerja nyata untuk membuktikan Makassar tetap survive, terbuka, dan siap menyambut siapa pun. Dengan kolaborasi pentahelix yang dihidupkan melalui BP2M, citra pariwisata Makassar dapat dipulihkan, kepercayaan wisatawan dikembalikan, dan ekonomi daerah kembali berdenyut. (*\)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan