Maros, Experience — Semangat kolaborasi dan kepedulian sosial ditunjukkan anak-anak muda Kabupaten Maros melalui agenda Riding & Charity yang digelar pada 17 Desember 2025. Kegiatan ini menjadi ruang temu berbagai komunitas lintas latar belakang sekaligus dirangkaikan dengan grand opening Lil Art Production sebagai wadah baru bagi pemuda untuk berkreativitas dan berproses bersama.
Kepada awak media, Reksadhika Pratama, perwakilan Salewangang Enthusiast, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut diinisiasi secara kolektif oleh Salewangang Enthusiast, Kick Fvcking Copper, Twowheels Enthusiast, Eastern British Style, dan Lawas Makassar.
Inisiatif ini lahir dari kesadaran bersama bahwa ruang tidak harus menunggu untuk disediakan, melainkan bisa diciptakan melalui keberanian untuk memulai dan kerja kolektif.
“Riding & Charity ini mempertemukan berbagai komunitas dari banyak genre dan latar belakang—mulai dari seni rupa, otomotif, film independen, literasi, musik, lingkungan, sepeda, hingga komunitas warga. Semua hadir dalam satu tujuan: bergerak bersama dan saling menguatkan,” ujar Reksadhika.
Sementara, Kurniawan Reskya Putra yang akrab disapa Woles. Perwakilan Kick Fvcking Copper Makassar sekaligus Koordinator Acara, mengungkapkan bahwa kegiatan ini dirancang sebagai ruang aman (safe space) yang inklusif. Menurutnya, ekosistem kreatif yang sehat tidak lahir dari arahan satu arah, melainkan dari dialog, kebebasan berekspresi, dan keberanian untuk mencoba—termasuk menerima proses gagal sebagai bagian dari belajar.
Di waktu yang sama, Guntur Rafsanjani menambahkan bahwa kegiatan tersebut juga berkolaborasi dengan Yayasan Abu Darda Indonesia melalui agenda donasi dan lelang tiga unit motor. Dari rangkaian kegiatan tersebut—yang mencakup penggalangan donasi, lelang, dan aktivitas kolaboratif—berhasil terkumpul dana sebesar Rp10.074.039 yang diperuntukkan bagi korban bencana di Aceh dan Sumatra.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak dan komunitas yang telah berpartisipasi dan berkontribusi. Kepedulian ini adalah bukti bahwa solidaritas bisa tumbuh dari ruang-ruang lokal,” kata Guntur.
Lebih jauh, Salewangang Enthusiast dibayangkan bukan sekadar nama atau agenda temporer, melainkan sebuah local movement—gerakan yang bertumbuh dari kegelisahan nyata anak muda dan harapan untuk memiliki ruang pulang.
Wadah ini tidak membatasi diri pada satu genre, disiplin, atau cara pandang. Setiap individu diposisikan setara tanpa hirarki kreativitas; yang diutamakan adalah semangat belajar, saling mendengar, dan saling menguatkan.
Upaya anak-anak muda Maros membangun Salewangang Enthusiast merupakan ikhtiar menciptakan ruangnya sendiri di tengah keterbatasan fasilitas dan minimnya ruang ekspresi.
Tanpa sekat antara komunitas otomotif, seni rupa, film, literasi, lingkungan, dan warga, ruang ini tumbuh sebagai meeting point—tempat gagasan bersilangan, pengalaman dipertukarkan, dan solidaritas dipraktikkan.
Ke depan, Salewangang Enthusiast diharapkan terus hidup sebagai ekosistem kolektif yang inklusif, berkelanjutan, dan berdampak. Bukan hanya menciptakan karya yang estetis dan kontekstual, tetapi juga menumbuhkan kesadaran, keberpihakan pada nilai kemanusiaan, serta kepedulian lingkungan. Dari lokal, mereka bergerak. Dari komunitas, mereka berdampak. Dan dari kebersamaan, masa depan diciptakan bersama.(*)
Editor//Experience//Online//Hasim.








