[OPINI] Marbot Bukan Pekerja Serabutan, tetapi Profesi Housekeeping Profesional

Oleh: Zulkarnaen Rahmat Sumakno, Ketua Makassar Muslim Friendly Forum (MFF)

 

DI banyak masjid di Indonesia, termasuk di Kota Makassar, terdapat sosok pekerja yang sering luput dari perhatian yakni marbot. Selama ini, marbot dipahami sebatas penjaga masjid, penyapu karpet, pengangkat toa, atau orang yang “ada kalau dibutuhkan”. Sebuah stigma lama yang terus melekat seolah profesi marbot hanyalah pekerjaan serabutan tanpa kompetensi dan tanpa nilai ekonomi.

Padahal bila kita jujur, marbot adalah “housekeeping manager” yang menjaga standar kenyamanan, kebersihan, dan spiritualitas tempat ibadah tugas yang jauh lebih kompleks dibanding housekeeping komersial di hotel berbintang sekalipun.

Perilaku jamaah, dinamika kepadatan ibadah, sensitivitas terhadap syariat, hingga standar kebersihan dan kesucian, semuanya berada di pundak seorang marbot.

Bacaan Lainnya

Namun, jasa mereka masih dianggap kerja sosial yang tidak perlu mendapatkan pengakuan profesional.

Di sinilah kampanye Gerakan Makassar Muslim Friendly Forum (MFF) mengambil posisi. Bagaimana mengangkat marbot sebagai profesi terhormat, profesional, dan bernilai ekonomi.

Dari Serabutan ke Profesional

Kami ingin mengubah paradigma.
Marbot bukan sekadar membersihkan, tetapi memastikan:

  • Kebersihan dan kesucian area ibadah
  • Kenyamanan jamaah dengan standar fasilitas publik
  • Tata ruang dan kerapian masjid yang berkelanjutan
  • Manajemen barang, perlengkapan, listrik, hingga keamanan dasar
  • Hospitality keagamaan yakni menyambut tamu, musafir, dan wisatawan ramah muslim

Itulah sebabnya, dalam kampanye Makassar Muslim Friendly Market (M2FM), marbot diperkenalkan sebagai bagian dari ekosistem pariwisata halal, karena:

  •  Masjid adalah destinasi wisata halal.

  • Kenyamanan jamaah menentukan citra kota ramah muslim.

  • Profesi marbot layak mendapatkan pelatihan, sertifikasi, dan standar gaji.

Kami mendorong masjid di Makassar untuk tidak melihat marbot sebagai “penerima sisa kas masjid”, tetapi sebagai pilar pelayanan jamaah dan citra peradaban Islam.

Ekonomi Masjid, Ekonomi Jamaah

Sebagai bagian dari program M2FM, MFF mendorong pelatihan housekeeping masjid berbasis hospitality modern

Kemudian menerbitkan Sertifikasi kompetensi kebersihan masjid sebagai standar insentif honor marbot melalui model ekonomi jamaah.

Kerja sama dengan pelaku UMKM lanjutnya untuk penyediaan bahan kebersihan program “Marbotpreneur” bagi marbot yang ingin merintis usaha kecil

Saat masjid menjadi pusat ekonomi jamaah, marbot akan menjadi subjek penerima manfaat, bukan lagi pengikut paling belakang.

Saatnya Mengembalikan Martabat

Mengangkat marbot sebagai profesi bukan sekadar urusan ekonomi, tetapi urusan martabat.

Di balik indahnya rumah ibadah berdiri, ada tangan yang mengatur sajadah agar jamaah nyaman. Ada pundak yang memikul galon air wudhu tanpa pamrih.

Ada petugas yang mengalahkan kantuk untuk membuka pintu subuh. Ada penjaga yang memastikan rumah Allah selalu hidup

Sudah saatnya kita berhenti menganggap profesi marbot sebagai pekerjaan kecil.
Justru karena kita menghormati rumah Allah, kita harus menghormati penjaganya.

Gerakan MFF bukan sekadar kampanye.
Ini adalah seruan budaya, sosial, dan spiritual:

  • Berikan harkat kepada profesi marbot

  • Jadikan mereka bagian dari sistem ekonomi jamaah

  • Profesionalisasi marbot = peningkatan pelayanan umat dan citra Makassar sebagai kota ramah muslim

Masjid megah tanpa marbot hanya bangunan kosong. Umat sejahtera berarti semua yang melayaninya termasuk marbot ikut sejahtera. (*\)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan