Plastic Reborn 3.0 Perkuat Ekosistem Pengelolaan Sampah Lewat Pemberdayaan Sektor Informal di Pesisir

oleh -59 views
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

SulselExperience.com, Jakarta – Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) didukung The Coca-Cola Foundation hari ini (16/11) kembali menjalin kemitraan bersama Ancora Foundation serta Plastic Bank Indonesia dan MallSampah sebagai mitra pelaksana dalam fase baru dari program “Plastic Reborn 3.0” yang bertujuan untuk mencari solusi terhadap permasalahan sampah plastik di Indonesia. Melalui Plastic Reborn 3.0, kemitraan ini bertujuan untuk memperkuat ekosistem pengumpulan sampah melalui pemberdayaan pengumpul sampah informal.

Plastic Reborn diluncurkan pada bulan Maret 2017 sebagai program kolaborasi yang diinisiasi oleh Coca-Cola Foundation Indonesia dan Ancora Foundation untuk mendorong terbangunnya ekosistem daur ulang ekonomi sirkular di Indonesia. Plastic Reborn 3.0 berupaya memberdayakan dan meningkatkan taraf hidup dari para pekerja sampah, yaitu pemulung dan pengepul di wilayah pesisir Indonesia yang meliputi Lombok dan Makassar, melalui pemanfaatan teknologi seperti aplikasi pengumpulan sampah yang memungkinkan pengumpul sampah untuk melakukan pencatatan, pelacakan, dan pemantauan data daur ulang sehingga dapat meningkatkan kapasitas pengumpulan dari pekerja sektor informal. Plastic Reborn 3.0 didanai oleh The Coca-Cola Foundation, dimana Coca-Cola Foundation Indonesia akan memantau implementasi dana hibah tersebut di Indonesia.

Ancora Foundation bersama dengan mitra pelaksana yaitu Plastic Bank Indonesia dan Mall Sampah dalam program Plastic Reborn 3.0 telah berhasil mengumpulkan lebih dari 14 juta – atau setara dengan 293 ton – botol plastik PET dari wilayah Lombok dan Makassar. Plastic Bank Indonesia dan MallSampah juga telah memberikan pelatihan dan pendampingan intensif kepada 436 pemulung dan pengepul untuk mengakselerasi adopsi teknologi di bidang pengelolaan sampah, serta meningkatkan kapabilitas pengelolaan sampah kemasan plastik pasca konsumsi.

Ketua Pelaksana Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) Triyono Prijosoesilo mengungkapkan, “Coca-Cola Foundation Indonesia (CCFI) bersama Ancora Foundation sebagai mitra terus berupaya mewujudkan ekosistem pengelolaan sampah yang kuat di Indonesia. Melalui inisiatif Plastic Reborn 3.0, para pemulung dan pengepul mendapatkan pendampingan untuk meningkatkan kapasitas lewat penggunaan teknologi yang mampu mengoptimalkan kinerja pengumpul sampah, serta menerima berbagai program pengembangan masyarakat. program ini juga mendorong terbentuknya sistem persampahan dan pendaurulangan yang efisien, khususnya agar wilayah pesisir Lombok dan Makassar dapat terhubung dengan infrastruktur daur ulang yang dibutuhkan.”

Lombok dan Makassar terletak di wilayah pesisir Indonesia yang rentan terhadap berbagai ancaman pencemaran lingkungan, termasuk sampah yang berasal dari daratan. Sementara itu, penanganan sampah di kedua wilayah ini mengalami kendala seperti infrastruktur persampahan yang belum memadai.

“Belajar dari inisiatif Plastic Reborn sebelumnya, kami menemukan bahwa pemanfaatan teknologi dan pemberdayaan sektor masyarakat informal merupakan dua komponen utama yang dibutuhkan untuk memperkuat ekosistem ekonomi sirkular di Indonesia,” jelas Direktur Eksekutif Ancora Foundation, Ahmad Zakky Habibie. “Hal yang cukup penting adalah bagaimana membuka jalan agar mereka dapat terhubung dengan infrastruktur daur ulang di daerah mereka masing-masing.”

Perpaduan kapabilitas antara Plastic Bank Indonesia dan MallSampah sebagai mitra pelaksana program Plastic Reborn 3.0 menawarkan solusi transparansi, pemantauan, peningkatan kapasitas, dan adopsi solusi teknologi untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang menyeluruh di wilayah pesisir. Dengan bantuan teknologi, kini pemulung dapat memantau jadwal, data transaksi, jumlah dan frekuensi transaksi jual beli, serta total kemasan botol pasca konsumsi yang telah dikumpulkan. Adanya peran dan kolaborasi tersebut diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi kesejahteraan pemulung dan masyarakat yang terlibat dalam program tersebut.

Country Manager, Plastic Bank Indonesia, Paola Cortese, mengatakan, “Kami senang dapat menjadi bagian dari inisiatif ini karena sejalan dengan misi kami untuk mencegah masuknya sampah plastik ke lautan sekaligus dapat meningkatkan kesejahteraan para pekerja sampah. Melalui program Plastic Reborn 3.0, kami menggunakan bisnis untuk meningkatkan literasi daur ulang para pemulung dan pengepul yang tersebar di delapan titik tempat pengumpulan sampah dan sekitarnya. Kami juga memberikan inklusi keuangan, transparansi, dan kemudahan pelacakan melalui platform blockchain kami yaitu Alchemy™ — seraya mengukur dampak lingkungan, sosial, dan ekonomi yang ditimbulkan.”

CEO dan Founder MallSampah, Adi Saifullah Putra, mengungkapkan rasa antusiasnya dapat kembali terpilih dalam program Plastic Reborn. “Kami telah membekali sejumlah pemulung dan pengepul dengan aplikasi yang dapat memperlancar proses pengumpulan sampah. Dengan aplikasi ini, mereka dapat memilih pesanan mana yang akan diambil dan mencatat semua kegiatan, penjualan serta pendapatan mereka ke dalam sistem. Aplikasi ini juga mengintegrasikan pembayaran elektronik meliputi sistem top up untuk para pengumpul sampah. Selain mencatat rincian botol plastik PET yang dikumpulkan, aplikasi ini juga dapat menghubungkan pembeli dengan pendaur ulang. Melalui inisiatif ini, kami berupaya untuk mengenalkan transparansi dan kemudahan dalam melakukan pelacakan proses daur ulang, dimana kedua hal tersebut sejalan dengan misi kami untuk mendigitalisasi sektor informal.”

Sri Wahyuni, pemulung dari Lombok dan peserta Plastic Reborn 3.0 turut menuturkan manfaat yang diterimanya dari program tersebut. “Melalui program ini, saya mendapatkan bantuan yang sangat berharga dan juga wawasan baru, khususnya bagaimana cara meningkatkan pengumpulan sampah.” Selain itu, setelah menggunakan aplikasi Plastic Bank, Sri Wahyuni juga mampu meningkatkan taraf hidupnya dan merasakan inklusi keuangan secara langsung, yaitu dengan dapat menukar plastik menjadi beras, biaya sekolah bagi anak-anaknya, dan asuransi kesehatan yang menjamin kesehatan diri serta keluarganya.

“Kami berharap kedepannya masyarakat dapat menjalankan program Plastic Reborn 3.0 ini secara mandiri. program ini dapat menjadi “gerbang” bagi para pekerja di sektor informal untuk dapat terhubung dengan ekonomi sirkular yang berkelanjutan dengan memanfaatkan teknologi dan keahlian baru yang mereka dapatkan. Kita bisa memanfaatkan sampah sebagai sumber daya bernilai tinggi sehingga berpotensi memberikan manfaat ekonomi, sosial dan lingkungan bagi Indonesia,” tutup Triyono.

(U.Nai)