Tim PKM-PI Biologi UNM Berhasil Tingkatkan Profit dan Produktivitas Panen Peternak Lele di Makassar

oleh -366 views
Unlimited Hosting WordPress Developer Persona

EXPERIENCE,MAKASSAR-Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) merupakan salah satu event tahunan bergengsi tingkat mahasiswa yang diadakan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Program ini bertujuan untuk menumbuhkan, mewadahi, dan mewujudkan ide kreatif serta inovatif mahasiswa. Salah satu tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Penerapan IPTEK (PI) Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Universitas Negeri Makassar (UNM), berhasil melakukan program penerapan IPTEK pada peternak lele di Kota Makassar dengan menerapkan sistem teknologi bioflok.

TIM PKM-PI Jurusan Biologi FMIPA UNM yang diketuai oleh Muhammad Yusuf asal Program Studi Biologi angkatan 2018 berhasil lulus tahap pendanan dengan mengusung judul “Penerapan Sistem Teknologi Bioflok pada Budidaya Ikan Lele sebagai Upaya Peningkatan Profit dan Produktivitas Panen”. Tim ini terdiri dari tiga anggota yaitu Nurazizah asal Program Studi Biologi angkatan 2018, Didik Imam Sakirin asal Program Studi Biologi angkatan 2017, dan Deny Romadhon Badaring yang juga berasal dari Program Studi Biologi angkatan 2018. Tim ini dibimbing langsung oleh dosen yang ahli di bidangnya yaitu Dr. Ir. Muhammad Junda, M.Si.

Mitra dari tim ini adalah seorang pembudidaya ikan lele yang masih menerapkan sistem budidaya secara konvensional bernama Muhammad Faizal yang bertempat di Kelurahan Parangtambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar. Sebelumnya, mitra mengeluhkan masalah terkait penggunaan sumber daya air, listrik, dan pakan yang sangat banyak sehingga membutuhkan biaya yang besar saat melakukan budidaya dan sangat berpengaruh pada omset yang didapatkan setelah panen.

Penggunaan pakan sangat banyak, cara konvensional itu ganti air 3 jam setelah makan sekitar 70%, kalau sistem sirkulasi air 24 jam full mengalir terus, belum lagi saat musim kemarau susah air. Air diganti untuk mengurangi gas amonianya, kita juga pakai mesin air yang biaya listriknya banyak,”  ungkapnya.

Menilik permasalahan tersebut, Muhammad Yusuf menjelaskan bahwa tim mereka menerapkan sistem teknologi bioflok dalam budidaya ikan lele karena dapat menekan penggunaan pakan dan listrik serta penggunaan air yang sangat minim karena tidak memerlukan penggantian air semasa budidaya.

Kami menerapkan sistem teknologi bioflok pada budidaya ikan lele karena metode ini dapat menekan penggunaan air, pakan, dan listrik. Amonia yang tinggi disebabkan oleh pakan yang tidak dimakan oleh ikan dan kotoran dari ikan. Nah, adanya keterlibatan bakteri nitrifikasi yang dapat mengolah sisa pakan dan kotoran ikan menjadi flok yang nantinya dimakan kembali oleh ikan sehingga dapat mengurangi penggunaan pakan,” jelasnya.

Salah satu anggota tim ini yaitu Deny Romadhon Badaring berharap agar nantinya banyak peternak ikan lele yang menerapkan sistem teknologi bioflok. Ia juga memohon doa dan dukungan agar dapat lulus seleksi menuju PIMNAS-34 yang akan diselenggarakan di kota Medan dan mempersembahkan medali emas untuk UNM.

Kami berharap akan banyak peternak lele yang menggunakan sistem ini karena dapat meningkatkan profit dan produktifitas panen. Saya dan tim juga memohon doa dan dukungan agar bisa lolos ke PIMNAS 34 dan mendapatkan medali emas untuk UNM,” tuturnya